Kontrak telah ditandatanganiPesawat CN 235 AU Senegal [PT DI]●
PT Dirgantara Indonesia (Persero) baru saja menandatangani kontrak pembuatan satu unit pesawat dari Nepal. Diharapkan pembuatan pesawat selesai sekitar 18 bulan.
Deputi Bidang Usaha Pertambangan, Industri Strategis dan Media Kementerian BUMN Fajar Harry Sampurno mengungkapkan, penandatanganan kontrak ini juga diharapkan dapat meningkatkan pasar PT Dirgantara Indonesia di Asia dan Afrika.
“Kontrak pembuatannya untuk CN235 1 unit. Ini akan memperbanyak pasar pesawat itu di Afrika,” kata Harry saat berbincang dengan Liputan6.com, Minggu (9/7/2017).
Sebelumnya, PT DI juga telah mengirimkan pesawat jenis yang sama ke negara Afrika, yaitu Senegal sebanyak 1 unit. Bahkan saat ini Senegal menambah pesanan satu unit lagi ke PT DI dan saat ini tengah dikerjakan.
Harry menuturkan, untuk pesanan pesawat dari Nepal ini, akan dikerjakan oleh PT DI kurang lebih selama 18 bulan. “Jadi akan di deliver tahun depan,” tegas Harry.
Mengenai kemampuan CN235 yang diinginkan Nepal adalah pesawat yang dikhususkan untuk transportasi militer. “Untuk harganya, sangat variatif, tergantung pesanannya untuk apa, transportasi, patroli atau yang lainnya. Kalau patroli itu lebih mahal,” tutur Harry.
Perlu diketahui, saat ini PT Dirgantara Indonesia dan CASA menjadi dua perusahaan yang memiliki lisensi Airbus dalam memproduksi CN235. Hanya saja, dalam kesepakatannya, CASA memiliki hak pasar di wilayah Eropa dan Amerika Serikat (AS). Sedangkan PT DI memiliki hak pasar di luar dua benua tersebut.
Di mata Indonesia, Turki adalah cara baru dalam memandang sebuah pengembangan konsep kerjasama bilateral. Bagaimana tidak, negara yang berada tepat di perlintasan Eropa dan Asia itu selalu memiliki cara dalam mengembangkan ekonominya.
Ankara misalnya, sebagai ibu kota ia sama sekali tak sesubur tanah Jawa di Indonesia yang kaya dengan gunung vulkanik aktif, sementara Ankara lebih mirip sebagai stepa dengan rumput kering dan tanah yang tandus.
Namun, toh sebagai ibu kota sebuah negara yang pernah dikuasai Dinasti Ottoman itu, Ankara adalah pusat pemerintahan sekaligus kota bisnis yang sangat nyaman bagi investor asing.
Konsep-konsep kerja sama yang berbeda itulah yang coba untuk ditawarkan kepada Indonesia, mengingat hubungan kedua negara memiliki cerita kesejarahan yang amat panjang.
Bahkan Menteri Luar Negeri RI Retno LP Marsudi pun setuju bahwa ada banyak hal yang membedakan kerja sama ekonomi dengan Turki.
"Yang membedakan kerja sama-kerja sama industri strategis antara Indonesia dengan Turki adalah dengan Turki kita sudah mampu melakukan kerja sama yang sifatnya 'joint development' dan 'joint production'," tutur Retno.
Turki rupanya tak mau sebuah kemitraan yang sekadar pepesan kosong melainkan konsep kerja sama yang konkret dan berwujud nyata.
Kapal pemasok listrik Turki [Tribunnews]
Sederet kemitraan khususnya di bidang industri strategis pun sudah mulai terealisasi secara konkret, lihat saja dalam hal pengembangan power ship atau kapal pemasok listrik antara PT PAL dengan Karadeniz Holding yang sudah membangun 4 "power ship" pertamanya dengan kapasitas 36-80 MW.
Kerja sama ini memungkinkan terpenuhi pasokan listrik di wilayah-wilayah byar pet di Tanah Air.
Lebih jauh, dengan Turki, Indonesia juga sudah memiliki agreement on defense industry cooperation sejak 2010.
"Dan pada saat 2015 kita sudah ada kerja sama komunikasi pertahanan software defense radio hv 9661 antara PT LEN dan Aselsan Turkish, ini adalah untuk memenuhi kebutuhan peralatan komunikasi terutama di wilayah-wilayah perbatasan," ujar Menlu Retno.
Ada juga kerja sama antara PT Pindad dengan FNSS untuk kerja sama joint development dan production untuk "medium weight armor combat vehicle" dengan kapasitas 30 ton.
Sebuah tank tempur skala menengah yang sudah mulai dikerjakan kedua perusahaan, bahkan telah diluncurkan pada Mei 2017. Prototipenya kelak akan didemonstrasikan pada saat HUT TNI pada 2017 nanti.
Kaplan MT [FNSS]
Kemitraan Konkret Turki tak ingin berlama-lama dengan sebuah dokumen tanpa kerja nyata. Negara yang sempat mengalami revolusi paling bersejarah pada masa pemerintahan Mustafa Kemal Ataturk itu benar-benar mengagungkan kemitraan yang konkret.
Tak melulu sederet yang dikembangkan di Indonesia, kerjasama joint development antara PT Dirgantara Indonesia dengan Turkish Aerospace Industries untuk pengembangan pesawat CN generasi terbaru menambah daftar panjang yang membuktikan betapa nyatanya kerjasama yang ingin Turki wujudkan.
Bahkan selain pengembangan pesawat untuk CN 245, dua perusahaan yang bermitra itu juga sedang memulai pengembangan pesawat nirawak alias drone kelas medium altitude long endurance untuk kepentingan patroli di wilayah perbatasan.
"Jadi dari data tadi ada beberapa kerja sama yang dilakukan dengan Turki tampak sekali bahwa kita cukup maju untuk kerja sama industri strategis dengan Turki dan kita sudah banyak melakukan kerja sama untuk development dan production," papar Menlu Retno.
Tak berhenti di situ, Turki bahkan menginginkan kerjasama dikembangkan lebih jauh hingga menjangkau ke level pemasaran.
Misalnya, saja untuk produk-produk industri strategis yang dihasilkan dari kemitraan perusahaan dari dua negara, Turki menyatakan berkomitmen untuk memasarkannya di wilayah Timur Tengah dan Eropa. Sementara Indonesia diharapkan memegang pasar untuk wilayah Asia Pasifik khususnya kawasan ASEAN.
Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita pun turut membenarkan bahwa potensi perdagangan sektor industri strategis Indonesia-Turki sangat besar dalam beberapa tahun terakhir ini.
"Saya juga surprise, mereka ternyata 'advance' untuk industri strategis. Saya yakin pesawat F35 milik Amerika dan pesawat serupa yang dikembangkan oleh Turki tidak kalah teknologinya," ucap Enggartiasto.
Oleh karena itulah, peluang itu akan digarapnya dalam sebuah kerja sama di bidang alutsista untuk meningkatkan volume perdagangan dua negara.
Ingin Akselerasi Turki menjadi bukti betapa sebuah kerja sama atau kemitraan bukan sekadar sesuatu yang menjadi bahan bahasan di meja diplomasi. Melainkan diwujudkan dalam hal yang riil di lapangan.
Ketua Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia Rosan P. Roeslani sendiri misalnya melihat Turki sebagai peluang pengembangan pasar dan sumber investor yang besar dalam berbagai bidang.
Hanya saja ia meminta perlunya bagi Pemerintah RI untuk mulai menghapus hambatan perdagangan termasuk tarif atau bea masuk sejumlah komuditas strategis antara kedua negara.
UAV TAI Anka
"Sebagian besar masalah soal harmonisasi kebijakan. Untuk pelaku usaha Turki sendiri kami melihat mereka cukup puas dengan beberapa investasi di Indonesia tapi mereka ingin akselerasinya lebih cepat," kata Rosan.
Serupa disampaikan Presiden Turki Recep Tayyib Erdogan yang ingin meningkatkan volume perdagangan antara kedua negara secara konkret.
"Pada 2016 naik menjadi 6 miliar dolar, angka baik tapi tak cukup memadai karena kita mempunyai potensi besar. Kita telah memliki target untuk memiliki volume perdagangan 10 miliar dolar AS," kata Erdogan.
Barangkali Turki memiliki banyak kesamaan dengan Presiden Joko Widodo yang selalu ingin sebuah kerja nyata.
Wajar jika kunjungan kenegaraan Presiden Jokowi ke Turki menjadi harapan yang amat besar khususnya bagi sebagian pelaku industri strategis untuk bisa mewujudkan rencana besarnya dalam mengkontribusikan kinerjanya bagi perekonomian Indonesia. (rzy)
Not to be dramatic, but the Galaxy S8 really is a feast for the eyes. It adopts a new dimension -- 18.5:9 (that's almost 2:1 like the LG G6($451.49 at Amazon.com)) -- which means that it's tall and narrow. That makes it easier to use one-handed. Extremely slim bezels mean there's much more screen stuffed into the shape: 83 percent of the phone's face is all yours for tapping and viewing. The S8 is almost the exact same height as the G6, but those curved sides make the S8 feel narrower, slimmer and, in truth, much more vulnerable.
Don't want this to happen? Get a case.
Luke Lancaster/CNET
I was extremely nervous I'd drop it. It almost seems more like a museum piece than a tool I'm going to use every day. I've had a couple close calls so far, but it hasn't smashed to the ground yet. When it inevitably does, because butterfingers, I have a feeling those rounded edges will be easier to crack than a device with straight sides. I can't say for sure, but the bigger problem may be the glass back.
Last year's GS7 shattered when I dropped it (oops), and my colleague Luke Lancaster in Sydney said his S8 slipped and slid out from under him, resulting in a bash. With the Galaxy S8's newer Gorilla Glass 5 topper, time will tell just how often this happens for others, too.
There's no more physical home button, and honestly? I didn't miss it at all. The onscreen control you see on pretty much every other Android phone felt completely natural. In fact, going Home on the S8 was faster than going Home on a lightly used S7. By the way, you can swap the placement of the Back and Recents buttons if you want to.
The S8 is the first standard Galaxy S phone (as in, not an Edge or Edge Plus) to have curved sides and the Edge display. You can use it as a kind of speed dial for your frequent apps and contacts, news headlines and so on, which you can call up from any screen (and tweak the tab location so it's easy for you to grab). You can add a lot of panes in the settings, but I like it best when kept to two -- otherwise you waste time trying to find what you're looking for.
Oh, one more thing about the screen. It's a very high-resolution, 2,960x1,440-pixel display, and that makes text, images and video absolutely pop, even in direct sunlight. You should know, though, that the off-standard dimension means you'll have to either be cool with black bars on the sides of videos you play (called pillarboxing), or you'll need to tap a screen control to crop-to-fit. In some videos, doing so reduced image quality. At other times, it looked just as good.
The S8 falters when you give it the finger(print)
My biggest problem with the phone design is the fingerprint reader, which moved from the home button on the S7's front face to a narrow strip on its backing that looks a lot like a Tic Tac, just left of the camera mount. I have no idea what Samsung was thinking putting it here. Other rear-mounted fingerprint sensors, such as the LG G6 and Google Pixel, are closer to the middle center of the phone's body, well clear of the camera and flash. They're round and easier to completely cover with your fingertip.
That fingerprint reader is mighty close to the camera.
CNET
Muscle memory has somewhat taken over and I've grown more used to the placement. I got a lot of setup errors, and the accuracy is still less "hit" and more "miss," especially when I haven't unlocked the phone for a stretch. And yes, I did often smear the camera with finger grease (yum) on the way to the scanner.
(Interlude: My colleague Patrick Holland tested the effect of fingerprint smudges on a bunch of phones, and noticed that the S8 still takes great pics regardless. We'll see if this holds up over time, or if the protective exterior coating wears out and image quality begins to suffer.)
Back to the fingerprint reader. Wait, you say! You can always use face unlock (which Samsung calls more convenient than it is secure, so no thanks) or the iris scanner, which is deemed secure enough for Samsung Pay. I tried both. The iris scanner takes longer than an accurate fingerprint reader on a rival phone, plus you have to hold it level to your face, and lift your sunglasses if you're outside. It doesn't always work in every lighting situation. But it worked fine with my glasses, even though I registered my peepers with contacts.
Best combination: Fingerprint reader with the iris scanner as backup, plus a PIN or pattern for times when the other two take too long.
One other thing about the fingerprint reader and Samsung Pay. Using both the fingerprint and iris methods to authenticate a payment took longer than on the Galaxy S7 and Note 7 (where the reader's on the home button), which made me feel like a jerk for holding up the line. Having a credit card ready is frankly faster, even though it's way less cool.
Bixby AI assistant still half-baked
Oh, boy. So much. Bixby is the blanket name for a feature that's actually broken into three parts: Voice, Home and Vision. It does not replace Google voice search or Google Assistant, which comes preloaded on the S8 and which you can invoke by long-pressing the home button.
Bixby Voice is most like Apple's Siri and Amazon's Alexa. So far it's only launched in South Korea, and I've never had a chance to test it. It'll start off by only working with phone settings, such as vocally dimming the screen, turning on Wi-Fi, rotating a picture and so on. It has its own dedicated button beneath the volume rocker, which you will not be able to remap from the settings menu. Boo.
I was able to test the other two Bixby features, though. The more visible of the two, Bixby Home (confusingly called "Hello, Bixby" when you sign in), is like Google Now for other Android phones. There are cards for the weather, upcoming appointments, your step count, headlines and so on. I'm not convinced it adds much value beyond Google Now, which also gives me flight alerts and tells me when my packages are set to arrive. However, you will be able to see Facebook, LinkedIn and Twitter cards. You'll be able to turn off Bixby Home, but I'm not sure if it'll be easy to add Google Now (the one with the cards) if you prefer that instead.
Bixby is a three-part app.
Josh Miller/CNET
Finally, Bixby Vision is a camera filter like Google Goggles or Bing Vision on a throwback Nokia Lumia. You can use it to scan words on a business card or package of food and translate it into 52 languages, with varying results. It can identify a book cover, landmark location or a bottle of wine through partner Vivino, a feature that worked for some bottles, not all. Partners such as Pinterest help handle the image search. I'm still looking for a natural reason to use this.
By the way, you'll need a Samsung account to use any Bixby feature, which is one more thing to sign into, or sign up for if you didn't have a Samsung account before.
Bixby is ambitious and brand new and I'm willing to give Samsung some leeway to develop it over the coming months. But from what I've seen so far, it's by no means a reason to buy the Galaxy S8. It rankles that you won't be able to reprogram the Bixby Voice key to launch any app you want -- this is something you can do on, say, the Alcatel Idol 4S -- but at this point I wouldn't boycott the S8 because of it.
No dual camera, and that's (mostly) OK
Standard photos on the Galaxy S8's single 12-megapixel are consistently good. They're crisp, colorful and eminently sharable. Low light shots are relatively bright and detailed (the darker the scene, the more image noise you'll see), and selfies on the 8-megapixel front-facing camera are also terrific. I especially like the new auto-focus feature, which frees you from having to stretch out your arm and tap the screen to focus.
You can double-tap the power button to launch the camera. This is baked into Android Marshmallow and up, but Samsung only implemented it now and it's great.
In addition, there's a pro mode and a heap of editing tools that really let you fine-tune colors, brightness and tone. If the camera recognizes a face, it'll offer up a Portrait editing option, which lets you blur the background to approximate the same kind of bokeh effect you can get from theiPhone 7 Plus($869.00 at Apple)' second camera lens. Result: enthusiastic overblurring that might cut off an arm or wipe out the background if you overdo it.
A word on the single-versus-double camera lens. Apple, LG and Huawei have phones with two lenses on the back. These, respectively, help achieve portraits with that cool, blurred effect I just mentioned, get wide-angle shots or take crisp black-and-white images. By sticking with a camera that's similar to last year's model, the Galaxy S8 can't do any of that as well as competitors. (I have high hopes for the Note 8 doubling down on cameras.)
Videos shoot by default in 1080p HD, but you can uplevel to quad HD (1440p). If you do, you'll lose a few features and effects, including video stabilization. You'll have hyperlapse and slow-mo modes for extra video fun.
Battery life is very good, and still no overheating problems so far
The million-dollar question: Is the Galaxy S8 battery safe? We haven't heard reports of overheating so far. I sure hope Samsung's eight-point safety check will keep the S8 and other future phones from the Note 7's fiery fate.
Wirelessly charging won't be as speedy as wired, but it sure is convenient for top-ups.
Josh Miller/CNET
I will say that my Galaxy S8 and S8 Plus test units, the first ever phones (in some markets) with the new Qualcomm Snapdragon 835 chipset, never felt dangerously hot. The glass-backed phones do get warm when charging and playing demanding games (such as Riptide GP Renegade or Clash of Clans), but so do other phones.
Pasukan TNI kembali menorehkan prestasi di dunia internasional. Prajurit dari TNI Angkatan Darat menjadi juara umum dalam Australian Army of Skill Arms at Meeting (AASAM) 2017 di Australia, Mei 2017.
Kemenangan tersebut tak hanya menjadi kebanggaan buat TNI. Tapi juga buat PT Pindad. BUMN yang mengkhususkan diri dalam industri teknologi pertahanan ini secara tak langsung terlibat dalam kemenangan TNI.
Ini karena senjata yang digunakan prajurit TNI merupakan bikinan Pindad. “Makanya, saya berterima kasih ke TNI,” ujar Direktur Utama PT Abraham Mose.
Abraham, yang belum genap setahun menggantikan Silmy Karim, menilai kemenangan TNI ini melempangkan jalan buat Pindad menguasai bisnis teknologi pertahanan. Bagi Abraham, target ini bukan sesuatu yang mustahil dicapai.
Pertengahan Juni 2017, Abraham menerima kunjungan Liputan6.com di kantor PT Pindad, kawasan Kiara Condong, Kota Bandung, Jawa Barat.
Produk Utama Pindad [Ikahan]
TNI menang di AASAM 2017 dan mereka menggunakan senjata Pindad. Apa pengaruhnya?
Prajurit kita menggunakan senjata dan pistol dari Pindad. Ini yang ke-10 kalinya, Indonesia memenangkan turnamen ini. Ini secara tidak langsung menjadi strategi mengenalkan produk Pindad keluar negeri. Sebab, setelah itu, negara itu (saingan TNI di AASAM 2017, red.) datang ke Pindad.
Berarti berdampak besar?
Dampaknya sangat besar, makanya saya berterima kasih ke TNI. Ini jadi strategi kami, spread the wing untuk menguasai pasar di bidang industri pertahanan.
Apa sih produk terlaris dari Pindad?
Yang terlaris itu amunisi. Kemudian senjata dan pistol. Tapi kalau bicara produk paling laris, sudah pasti SS2 dan SS1.
Kenapa bisa laris?
Kalau bicara teknologi, kurang lebih sama. Kalau bicara material, saat ini kita juga masih beli material dari luar negeri. Mungkin dari sisi desain.
Desainnya bagaimana?
Karakteristiknya kami sesuaikan dengan karakteristik pengguna dan iklim di Indonesia. Kami selalu berdiskusi dengan pengguna, dalam hal ini TNI. Mereka yang tahu karakteristik yang mereka butuhkan untuk bertempur.
Apakah ada produk Pindad, tapi tidak dibuat negara lain?
Banyak. Panser dan tank untuk gurun.
Itu kan bukan spesifikasi utama Pindad?
Spesifikasi kami tidak ke arah sana, tapi bukan berarti kita tidak bisa. Saat ini, kami inovasi atas permintaan mereka.
Cuma untuk gurun?
Ada tank boat. Itu produk Pindad yang khusus digunakan di kawasan perairan Indonesia.
Tank boat bisa dimodifikasi juga?
Ada permintaan dari Timur tengah untuk bekerja sama mengembangkan produk tank boat. Tentunya menyesuaikan karakteristik negara di sana.
Target Utama Pindad Kaplan MT [FNSS]
Dengan kata lain, kemenangan ini jadi cara Pindad untuk menguasai bisnis teknologi militer?
Kami berpatokan ke visi Pindad. Di 2023, kami menjadi industri yang unggul dan industri yang terbesar di Asia dalam bidang industri pertahanan.
Memang mungkin?
Ini sangat mungkin. Kalau kita berbicara Pindad, perusahaan ini ada sejak 1808. Jadi kalau bicara penguasaan teknologi, bicara profesionalisme, bicara keahlian untuk memproduksi senjata, rasanya dengan waktu yang panjang itu kita sudah kuasai.
Sejauh ini Pindad sudah cukup menguasai industri pertahanan?
Tidak serta merta. Kami harus punya strategi. Strateginya adalah dengan melakukan dua pendekatan. Pertama, terus berinovasi secara internal. Sisi lain strategi kita adalah melakukan ekspansi pasar, dengan melakukan strategic partnership.
Inovasinya dengan menghasilkan produk baru?
Ini sudah menjadi KPI kami sebagai BUMN. Minimal dua produk inovatif yang harus kita luncurkan. Tahun ini kami punya rencana (produk baru) di bawah 10 produk
Apa saja produk baru Pindad?
Di Industri pertahanan kita akan launching produk baru kita, yang disebut senjata serbu bawah air, sniper yang baru, kemudian ada pistol. Kalau pistol dan senjata mungkin ada empat atau lima buah. Jadi kurang lebih ada sembilan produk inovatif.
Kalau untuk bidang industrial, produk-produk Alsintani, yang kemarin di Aceh dalam pameran pertanian.
Kalau bicara peminat, siapa peminat Pindad?
Kalau berminat yang membeli produk Pindad sudah banyak. Dari Timur Tengah, Eropa, kemudian dari Australia, dan lain-lain. Tentunya, kami tetap melihat, bagaimana regulasi. Kami juga harus mengutamakan keunggulan dalam negeri.
Pasar Produk Pindad Kendaraan pertanian produksi PT Pindad [def.pk]
Memang target market-nya ke mana saja?
Saat ini, market yang menjadi sasaran adalah Timur Tengah, sebagian dari Asia Tenggara. Itu sudah ada beberapa kontak. Mudah-mudahan tahun ini juga akan punya kontrak untuk ekspor amunisi ke beberapa negara di Asia Tenggara dan Timur tengah.
Pasti ada saingan?
Ada. Tapi kami punya strategi. Karena industri pertahanan itu segmen tersendiri. Hanya beberapa industri pertahanan yang punya kemampuan unggul.
Sehingga kami memilih melakukan strategic partnership dengan beberapa negara dan vendor yang unggul.
Yang jadi partner?
Mereka tahu Indonesia punya kemampuan. Karena kami juga butuh beberapa material dari mereka, butuh teknologi bahan dari mereka.
Konkretnya seperti apa?
Misalnya konsep joint marketing dan joint production. Itu sudah berjalan. Salah satunya dalam waktu dekat kami akan kerja sama membangun munisi di Turen (Malang).
Selain itu?
Kami akan kerja sama, mungkin senjatanya merek Pindad dan kami bisa menjual produk itu di luar.
Negara mana saja yang mau kerja sama?
Beberapa negara di kawasan Timur Tengah.
Apa sih hambatan Pindad?
Untuk memasarkan produk pertahanan, ada satu regulasi yang kita sadari kita tidak bisa melanggar. Karena ini bicara ujung-ujungnya kedaulatan negara. Sehingga apapun kita harus izin dulu jika kita akan ada kerja sama atau penjualan produk.
Tapi sudah ada solusi?
Dengan melakukan strategic partnership itu, kami bisa menjual produk di dalam negeri, kami juga bisa menjual ke luar negeri dan ini sudah berjalan.
Sepakat kembalikan trend positifIlustrasi kapal selam U214 [wikipedia] ★
Presiden Joko Widodo (Jokowi) mengatakan, Indonesia dan Turki adalah dua negara yang memiliki potensi besar untuk mengembangkan kerja sama. Untuk itu, Presiden Jokowi mengungkapkan bahwa dirinya sudah menyampaikan kepada Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan beberapa bidang kerja sama konkrit yang dapat diprioritaskan, antara lain di bidang perdagangan dan investasi, pertahanan, energi, serta memerangi terorisme.
“Kita telah sepakat berupaya mengembalikan trend positif perdagangan dan investasi, antara lain melalui negosiasi Indonesia – Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement (IT-CEPA), pengurangan atau pengakhiran hambatan perdagangan, dan penciptaan iklim investasi yang kondusif,” kata Presiden Jokowi dalam pernyataan pers bersama Presiden Erdogan, di Istana Kepresidenan Turki, Ankara, pada hari Kamis (6/7) siang waktu setempat.
Kepala Negara menambahkan, Indonesia menyambut baik hasil konkrit kerja sama industri pertahanan, berupa peluncuran tank kelas menengah kpaplan, produksi bersama Indonesia dan Turki, dan nota kesepahaman (MoU) antara PT Dirgantara Indonesia dengan Turkish Aerospace Industry untuk kerja sama di bidang kedirgantaraan.
“Tadi juga telah kita sepakati untuk menambah kerja sama di bidang pembuatan kapal selam dan drone, dan ini juga akan ditindaklanjuti oleh tim dari kedua negara,” sambung Presiden.
Mengenai penguatan kerja sama di bidang energi, menurut Presiden Jokowi, saat ini difokuskan pada pemenuhan kebutuhan energi listrik di kawasan kepulauan Indonesia, antara lain melalui penggunan powership atau kapal penyedia pasokan listrik.
Soal Qatar dan Dukungan Pencalonan Indonesia Ilustrasi UAV ANKA [google]
Selain isu bilateral, Presiden Jokowi menyampaikan, dalam pertemuan dengan Presiden Erdogan itu telah dibahas berbagai isu dunia, antara lain masalah Qatar. “Kita harapkan ini bisa kita selesaikan melalui komunikasi dan dialog-dialog yang baik negara-negara yang memiliki masalah,” ujarnya.
Sedangkan mengenai pemberantasan terorisme, Presiden Jokowi mengatakan, Indonesia dan Turki telah meningkatkan kerja sama melalui informasi intelijen dan pembangunan IT sistem intelijen, sehingga memudahkan kedua negara bekerjasama dalam rangka memberantas terorisme.
Mengakhiri pernyataan persnya, Kepala Negara menyampaikan apresiasi atas dukungan Turki terhadap pencalonan Indonesia pada DK PBB untuk tahun 2019-2020. Selain itu, Presiden Jokowi menyambut baik penandatanganan kerja sama antara Indonesia dan Turki.
“Saya menyambut baik ditandatanganinya dua dokumen kerja sama antara pemerintah Indonesia dan Turki yaitu di bidang kesehatan dan peluncuran perundingan Indonesia-Turkey Comprehensive Economic Partnership Agreement,” kata Presiden Jokowi.
Sementara itu, Presiden Erdogan menyampaikan, Indonesia dan Turki memiliki hubungan sejarah, kebudayaan dan hubungan antar masyarakat yang panjang antar sebuah bangsa. “Saya harap ini dapat menjadi aset untuk memperkokoh kerja sama,” kata Presiden Erdogan.
Turut mendampingi Presiden dalam pertemuan antara lain Menteri Koordinator Bidang Polhukam Wiranto, Menteri Luar Negeri Retno LP Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Menteri Perdagangan Enggartiasto Lukita, Kepala BKPM Thomas Lembong, dan Kepala BNPT Suhardi Alius.
Direktur Utama Karpowership Orhan Remzi Karadeniz (duduk kanan) bersama Direktur Utama PT PAL Budiman Saleh (duduk kiri) menandatangani kesepakatan kerjasama strategis antara PT PAL dengan Karpowership disaksikan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita (kanan), Deputi Perdana Menteri Turki Nurettin Canikli (kedua kanan) dan Menteri Ekonomi Turki Nihat Zeybekci di Ankara, Turki, Kamis (6/7/2017). (ANTARA FOTO/HO/Lukman) ●
PT PAL Indonesia (Persero) dan Karpoweship dari Turki sepakat membangun empat kapal pembangkit listrik berkapasitas 36 hingga 80 Mega Watt (MW) untuk pengadaan listrik di berbagai pulau di Indonesia.
"Kedua perusahaan telah menandatangani kesepakatan kerja sama strategis membangun empat kapal pembangkit listrik Indonesia pertama di galangan kapal Indonesia," demikian keterangan Direktur Utama PT PAL Indonesia, Budiman Saleh, dalam siaran pers yang diterima ANTARA News di Jakarta, Jumat.
Penandatangan kerja sama dilakukan antara Budiman Saleh dan Direktur Utama Karpowership Orhan Remzi Karadeniz yang disaksikan Menteri Luar Negeri Turki Nihat Zeybekci dan Menteri Perdagangan RI Enggartiasto Lukita, dalam rangkaian kunjungan Presiden Joko Widodo (Jokowi) ke Turki, Kamis (6/7).
Menurut Budi, Kapowership merupakan pemilik tunggal dan juga operator dari kapal pembangkit listrik terbesar di dunia, dan PT PAL sebagai perusahaan negara terkemuka di bidang perkapalan di Indonesia.
Dijelaskannya, pada Oktober 2016 nota kesepahaman (memorandum of understanding/MoU) telah ditandatangani PT PAL sebagai bentuk kerjasama awal dalam mengidentifikasi dan memonitor peluang peluang terkait akan kebutuhan listrik di Indonesia dan wilayah sekitarnya.
MoU itu menjadi pembuka jalan untuk kedua pihak dalam bersama membangun dan berkolaborasi dalam transfer teknologi sambil turut serta menambahkan nilai lokal Indonesia dalam pembangunan armadanya.
"Kerja sama strategis ini bagian dari rencana armada tambahan hingga sebesar 5.000 MW," catatnya.
Kapal Pembangkit Listrik Karpowership [Tribunnews]
PT PAL akan membangun empat kapal pembangkit listrik Indonesia kelas Mermaid berkapasitas antara 36 sampai 80 MW untuk pengadaan listrik di berbagai wilayah kepulauan Indonesia.
Dengan kerjasama strategis itu, Karpowership dapat memperluas operasinya di Indonesia, yang sampai hari ini berhasil menginstal listrik berkapasitas 845 MW di sejumlah wilayah kepulauan Indonesia, termasuk di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Karpowership merupakan satu-satunya pemilik, operator dan pembangun kapal pembangkit listrik Powership di dunia yang berperan aktif dalam investasi jangka menengah sampai panjang dengan jumlah karyawan sebanyak 2.200 orang.
Selain itu, Karpowership memiliki dan mengoperasikan 13 Powerships dengan total kapasitas 2.700 MW dan tambahan 4.500 MW yang sedang dalam proses pembangunan. Karpoweship kini beroperasi di Ghana, Indonesia, Lebanon dan Zambia melalui Mozambik.
Karpowership sudah beroperasi di Indonesia sejak 2015 dengan empat Powerships dan total kapasitas 845 MW.
Pemerintah menambahkan program pengembangan industri pesawat ke dalam proyek strategis nasional.
Perusahaan aviasi pelat merah PT Dirgantara Indonesia bakal memproduksi pesawat jenis N-245, sedangkan perusahaan milik BJ Habibie PT Regio Aviasi Industri bakal menggarap produksi pesawat jenis R80.
“Memang sampai sekarang belum financial close, tetapi kebutuhan pendanaan keduanya sekitar Rp 20 triliun,” ujar Deputi Bidang Percepatan Infrastruktur dan Pengembangan Wilayah Kemenko Perekonomian Wahyu Utomo di Jakarta, Kamis (6/7).
Dirgantara dan RAI bakal menjaring investor dalam proyek pengembangan pesawat itu. “Meskipun masuk ke dalam proyek strategis nasional, pemerintah tidak berikan jaminan apapun. Pendanaannya sepenuhnya pure dari swasta, mereka boleh joint dengan beberapa perusahaan lain,” ujar Wahyu.
Menurutnya, kedua perusahaan tengah mencari investor dan calon pembeli kedua jenis pesawat pengangkut tersebut. Kedua perusahaan penanggungjawab proyek itu diharapkan bukan hanya memenuhi permintaan pesawat dalam negeri, tapi juga untuk pasar ekspor.
Dirgantara bakal membuat pesawat jenis N-245 di fasilitas produksinya di Bandung. Adapun RAI bakal memproduksi R80 di Kertajati. Kedua pabrikan juga didorong bukan hanya menggeluti proses perakitan, tapi juga sampai ke industri perawatan mesin pesawat (maintenance repair overhaul/MRO).
“Dirgantara belum mengestimasi mau produksi berapa unit N-245. Tapi, RAI sudah menargetkan minimal produksi 160 unit R80, di angka itu dia baru break even,” ujar dia.
Pemerintah berharap Indonesia dapat memproduksi pesawat secara berkelanjutan dengan masuknya program pengembangan industri pesawat di dalam proyek strategis nasional. Dua produk pesawat yang masuk ke dalam proyek strategis nasional yakni N-245 dan R80 merupakan dua model pesawat jarak menengah.
Kemitraan industri pertahanan antara Indonesia dengan Turki disebut meningkat signifikan dalam beberapa tahun terakhir.
Hal itu disampaikan Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam pernyataan pers bersama setelah pertemuan bilateral di Beyaz Saray Ankara, Kamis. "Bidang kerja sama lain yang mengalami peningkatan signifikan adalah di bidang industri pertahanan," kata Presiden Jokowi.
Ia menyambut baik hasil konkret kerja sama industri pertahanan antara lain berupa peluncuran tank kelas menengah Kaplan MT. Tank tempur tersebut merupakan produksi bersama antara Indonesia dan Turki yang dikembangkan oleh FNSS Turki dan PT Pindad Indonesia.
Selain itu, ada "Memorandum of Understanding" (MoU) atau nota kesepahaman antara PT Dirgantara Indonesia dengan Turkish Aerospace Industries untuk kerja sama di bidang kedirgantaraan. "Tadi juga telah kita sepakati untuk menambah kerja sama di bidang pembuatan kapal selam dan truk dan ini juga akan segera ditindaklanjuti oleh tim dari kedua negara," tutur Presiden.
Sementara penguatan kerja sama di bidang energi kata dia, difokuskan pada pemenuhan kebutuhan energi listrik di kawasan kepulauan Indonesia antara lain melalui penyediaan power ship atau kapal penyedia pasokan listrik.